1. This site uses cookies. By continuing to use this site, you are agreeing to our use of cookies. Learn More.
Dismiss Notice
Hai. Selamat datang di YaoIndo. Silahkan bergabung untuk melihat semua konten di forum. Terima kasih banyak.

Plays With Me (ShiZaya)

Discussion in 'Fanfiction' started by Zen San, Apr 30, 2015.

  1. Zen San

    Zen San Well-Known Member

    Messages:
    308
    Likes Received:
    1
    Trophy Points:
    18
    Gils:
    195.15€
    Points:
    31 (0 Banked)
    [​IMG]

    Plays With Me!​

    Durarara!
    ShiZaya, Sweet Stories, Shonen Ai, MxM, Firendship.
    Zen San


    .
    .
    .​
    Heiwajima Shizuo, seorang siswa bermasalah di sebuah SMA di Ikebukuro. Delapan belas tahun, dingin, tidak banyak bicara dan tak kenal ampun pada siapapun.
    Berdiri dengan tubuh tinggi tegapnya di depan ruang konseling, wajahnya tenang dengan balutan rambut terang itu terlihat sedikit berandalan. Tatapan mata yang mengerikan seakan memiliki niat jahat itu, membuatnya sulit untuk di dekati bahkan sekedar bersapa dan memberi salam.
    "Shizu Chan! Shizu Chan! Nee bagaimana hukumanmu hari ini?" seorang siswa dengan wajah sumringah tersenyum meledek dari ujung koridor yang hanya beberapa kaki dari jarak Shizuo berdiri tenang dengan wajah kesalnya.
    "IZAYA!" dengan cepat, siswa tahun ajaran akhir dengan surai hitam itu berlari cepat menghindari teman sekelasnya yang mengejarnya.

    Shizuo dan Izaya memiliki hubungan yang sulit di mengerti orang-orang. Satu sisi Shizuo sering terlihat mengamuk tanpa arah pada Izaya yang juga sangat senang menggodanya. Di sisi lain, salah satu dari mereka saling merasa kehilangan saat tidak bertemu dalam sehari saja. Mungkin hanya mereka berdua yang bisa menjelaskan bagaimana cara hari dan perasaan mereka berkerja untuk menerima satu samalain.

    Masa SMY yang sangat menyenangkan, kecuali untuk beberapa orang yang di asingkan dan tidak bisa menemukan jalan yang membuat mereka nyaman. Orang-orang tersebut biasanya berkumpul di satu titik.
    Untuk orang-orang yang merasa di buang dan terabaikan, tempat mereka memilih berdiri sendiri di satu tempat yang tak ingin di bagi. Namun ketika bertemu dengan orang yang sama sepertinya, perlahan saling terbuka dan berbicara. Tentang dunia yang tak berjalan sesuai keinginan mereka.
    .
    .
    .​

    Melangkah dengan tenang di jalan sempit di antara gedung tinggi, remaja dengan surai terang jemarinya menjepit seputung rokok yang menyala merah di kegelapan. Asap mengepul dari bibir dan lubang hidungnya sesekali, jemari yang menjepit batangan berapi itu nampak kedinginan dalam keramaian.
    "Shizu chan~" melompat dengan girang seperti biasanya, sudut kota yang selalu sepi tak di lintasi siapapun di antara restoran sushi sudut kota. Merangkul bergelayut manja pada tengkuk yang di selimuti surai keemasan itu.

    "Sial! Apa yang kau lakukan? Ingin berkelahi denganku? Izaya!" wajah kesal dengan ekspresi menyebalkan yang seperti biasanya itu sangat menggoda dan- (menggairahkan)
    Izaya mengecup lembut, bibir hangat, liat lidahnya yang saling melumat, perlahan dari arah belakang memeluk merambati jemari tangan yang terasa dingin itu.
    "Kau membuang rokok ku?" Shizuo sedikit menjaga jarak wajahnya, membiarkan Izaya memutar tubuhnya dan berdiri menghalanginya masih bergelayut manja dan bertumpu pada tangan kuat pria pirang itu. Tersenyum, ia memang tak suka perokok, tapi itulah yang membuat Shizuo terlihat begitu sexy dan menyenangkan untuk di goda.

    "Apa yang kau inginkan? Fuh!" tiupan tipis pada telinga dan tengkuk Izaya membuatnya sedikit merinding, jemari yang masih saling menggenggam dan tatapan mata yang tak bisa di lawannya. Tatapan yang selalu membuat hatinya bergetar hebat tak terkendali, suara yang terdengar darinya selalu membuatnya sulit tertidur pada malam-malam yang sunyi dan panjang untuk di habiskan seorang diri. Pria dengan mantel hitam berbulu itu hanya menggeleng lembut dengan wajah bersemu, Shizuo memegang pinggang ramping Izaya yang masih menatapnya seperti berusaha menyampaikan sesuatu.
    Moodnya sedang baik sekarang, ia melayani godaan dari pria dengan wajah cerah dan tatap licik menggoda itu.

    "Coklat- buka mulutmu!" Izaya menekan blok coklat berbentuk bola kecil itu ke bibir Shizuo yang tak melawan. Ini adalah setahun, sejak mereka resmi menjadi teman sex, ya hanya teman sex jadi tak heran jika setelah ini masing-masing mereka kencan dengan pria atau wanita lain.
    "Rasanya tidak buruk."
    Sambil menarik wajah Izaya agar lebih dekat dan melahap bibir tipis yang tersaji di hadapannya, memindahkan bagian coklat yang mulai meleleh itu ke mulutnya melewati tautan hangat, lembut, dan basah dari liat merah muda dalam mulutnya.

    "Ugh-"
    Izaya semakin bersemu, telinganya turut memerah. Mereka tak pernah sedekat ini jika depan umum. Mencuri waktu saling bertatap mata dan tersenyum dengan arti yang tak bisa di jelaskan untuk sebagian orang. "Sekarang, belum tanggal 14." bisik Shizuo lembut, udara hangat itu menjalari leher Izaya membuatnya merinding. "Februari?"
    Sentuhan jemari yang memegang kulit pinggul menggoda, halus dan sedikit dingin. Tangan Shizuo selalu dingin seperti ini sejak pertama kali ia merasakan sentuhannya.

    "Aku tidak merayakan hari kematian orang lain!" balas Izaya tak menatap Shizuo yang mulai menjamah pinggang dan perut hangat halus dan sangat lembut itu.
    "Kalau begitu, ini adalah hari milik kita-" Sapuan lidah dan lumatan hebat pada pucuk telinga Izaya yang membuatnya menahan desah pada lorong-lorong gelap sepi di antara keramaian yang mengabaikan tempat seperti ini.
    Jemari yang sedikit dingin, jenjang dan sedikit kasar di telapaknya itu mulai menjamahi leher dan telinga lain Izaya yang tak melawannya. Ini sudah minggu ke dua setelah sex mereka terakhir di apartemen Shizuo.

    Tentu saja, Izaya seperti sudah terhipnotis oleh sesuatu yang hanya Shizuo miliki seorang. Sesuatu yang hanya bisa ia dapatkan dari pria yang kini memeluk erat dengan telapak tangannya yang dingin.
    "Nghhhh-" Izaya sedikit kaget ketika jemari dingin itu menyentuh ujung putingnya yang menonjol terhalang kaus hitamnya. Sementara Shizuo yang belum menganti seragam sekolahnya sama sekali, itu artinya dia belum pulang ke rumahnya hingga hari sudah gelap seperti ini.

    Bermain-main di jalan sempit seperti ini tempat yang orang-orang hindari. Sudut kota yang terabaikan dan jauh dari perhatian, seperti orang-orang yang selalu bahwa mereka tidak memiliki keberadaan.
    "Kau memberi sesuatu di coklat itu? Perangsang?" Shizuo menarik Izaya keras hingga iya terpojok pada dinding tinggi yang dingin.

    "Bagaimana jika ya? Lalu apa yang akan kau lakukan jika Tidak?" seperti menggoda, wajahnya yang selalu nampak mengejek dan tatap mata yang penuh intimidasi menyebalkan.
    "Aku akan membuatmu tak bisa berjalan pulang." desis pelan Shizuo tepat di telinga Izaya yang terpojok di antara kedua lengannya.
    .
    .
    .
    .​
    Suara keramaian dari arah jalan, klakson mobil yang bersahutan, iklan di sebuah layar LED yang begitu terang, dan suara-suara setiap orang melintasi sudut kota yang masih di abaikan.
    Tubuh tertelungkup di dipan dingin luar ruangan tak beralas apapun, dengan cairan kental putih dengan aroma khas. Wajah yang sedikit berantakan dan baju yang kotor. Celananya sedikit rusak, rasa pegal di kaki dan pinggangnya benar-benar membuatnya kehabisan tenaga.

    "Izaya, ayolah. Kau yang mencariku hari ini kan? Ini baru dua ronde! Biarkan aku mengeluarkannya, seluruh dirimu."
    Wajah mulai keinginan, menarik tubuh pucat itu dan mengarahkan ujung tumpul yang berair itu dengan mudah. Sedikit perih karena goresan dan luka sudah membuat Izaya terbiasa, bermain dengan pria yang sangat suka bermain kasar dan tak bisa berhenti dengan mudah.
    "Sial! Di dalammu benar-benar sempit! Ini sudah yang ke sekian kalinya." Shizuo berusaha menguasai dirinya, Izaya hanya tersenyum pada wajah penuh keringat dan bibir yang bergetar, ia sudah mencapai klimaksnya dua kali malam ini.

    "Kau benar-benar luar biasa seperti biasanya, Shizu Chan Ah... Ahh.. Kau selalu membesar tiba-tiba." Izaya mengangkat kakinya agar Shizuo bisa memasukinya lebih dalam dan dalam lagi. Tubuh dan hati yang terhubung yang tak di ketahui siapapun. Izaya hampir mencapai klimaksnya yang ketiga, menatap wajah dengan balutan surai terang yang terpejam. Alis yang tegas dan tatap mata yang membunuhnya dalam kenikmatan.
    "Ah-" Izaya mendekatkan wajahnya, ia butuh sesuatu untuk membuat bibirnya berhenti mengerang menjelang klimaksnya yang kesekian kali. Shizuo menghindar, wajah serius dengan tepisan penolakan yang begitu lembut, ia menghindar dari Izaya.
    "Kau ingin aku menciummu?"
    "Aku tidak akan menciummu! Aku tidak akan menyetubuhimu lagi setelah ini-" lanjutnya, bibir yang berjarak tak lebih satu jengkal itu bicara begitu tenang, sementara bibir Izaya mengatup cepat bergetar tak bisa mengatakan apapun.
    .
    .​

    Hanya itu kata-kata yang keluar dengan tatapan tajam yang membuatnya selalu bergairah pada malam seorang diri. Lengan kuat yang sangat nyaman dalam pelukannya, dada berpola kotak yang membuatnya berdelusi kerapkali ia menghabiskan waktunya 'bermain' seorang diri. Aroma rokok khas milik Shizuo itu bahkan masih, melekat di sekujur tubuhnya yang di kecup dan di jilat serta gigitan tanda kecup di dada dan leher jenjangnya.
    'Sesuatu yang di mulai tanpa perasaan, akan terus berjalan tanpa perasaan? Bahkan salah satu seorang diantaranya akhirnya hanya akan terluka.'
    Izaya hanya terdiam mengulum tersenyum, ya hanya itu yang bisa Izaya lakukan. Mungkin sudah saatnya Shizuo bosan dengan ini semua. Bosan dengan permainan yang mereka mulai, semua ini hanya main-main sampai akhir seperti ini.
    Hingga pada akhirnya salah satu di antara mereka yang terluka merasa, di permainkan. Atau justru keduanya yang terjebak dalam pemainan yang mereka mainkan.
    .
    .
    .​
    "Tadaima-" suara samar tipis pada hari menjelang pagi. Izaya nampak masih seperti biasanya setelah ia menyudahi hari ini. Menahan sakit dan ngilu pada setiap sendi dan tulangnya.
    "Uhnn sakit banget-"
    Bergegas membersihkan diri pada guyuran air dingin yang terasa menyakitkan menembus kulitnya seperti menusuknya bersama luka yang baru saja ia dapat di hati kecilnya.
    "Baka!" gumamnya tipis membiarkan air itu mengaliri sekujur tubuhnya yang kotor dan sedikit tanda memerah di leher dan dadanya. Tanda yang di tinggalkan Shizuo beberapa jam sebelumnya, melihatnya saja bisa membawa ingatan tentangnya.
    "Aku seharusnya ingat! Ini hanya permainan saat aku bosan!" lengkung senyum di bibir yang pucat dengan sedikit bergetar di banjiri airmata yang turut jatuh tersembunyi air yang membersihkan tubuhnya.

    Ia mengingatkan dirinya ini hanya sesuatu hal yang wajar yang akan di alami setiap orang. Menertawai dirinya yang menangis seperti ini seorang diri, mempermainkan cinta lalu cinta akan membuatmu menangis.
    Ia segera menyelesaikan mandinya, membersihkan setiap lekuk yang di jamah dan begitu menyisakan nikmat sekaligus sakit, yang sangat menyakitkan pada luka yang tak terlihat. Ia masih memukul-mukul dinding kamar mandi marmer itu sesekali dengan lemah karena ia mulai kehabisan tenaga.

    "Baka Shizu-" desisnya sambil memejamkan mata berusaha menenangkan dirinya sendiri.
    Pada sisi lain di sebuah apartemen seorang siswa bermasalah yang selalu mencolok tanpa seragam sekolahnya. Menikmati asap dan waktu yang terus berjalan begitu saja. Seperti melepaskan sesuatu, ia tak terlalu mengerti. Tapi pada akhirnya yang ia tau semua akan berakhir seperti ini. Ia sudah tahu, bahkan sebelum semua di mulai.
    "Hah sial! Si bodoh itu pasti sedang menertawaiku saat ini. Aku hampir saja- jatuh padanya. Pria yang berbahaya." Mengesap filternya yang manis dan meneguk minuman besoda. Menghilangkan manis coklat dan ingatannya tentang suara desah manis Izaya dan aroma nafas yang semakin ia coba lupakan semakin tak bisa ia abaikan.

    "Persetan! Dia bisa tidur dengan siapa saja yang ia inginkan-" Shizuo mematikan televisi yang menyala sejak tadi tanpa di perhatikannya, ka berbaring di sofanya. Ia tak bisa tidur di ranjangnya, ranjang yang biasanya ia bagi berdua bersama Izaya sebelumnya.
    "Apa yang terjadi padaku?" ia membenamkan wajahnya pada bantal sofa yang dingin dalam ruang berAC itu, ia memejamkan mata dan perlahan membiarkan rasa lelah menyerangnya.
    .
    .
    .​

    Beberapa hari ini siswa tahun ajaran baru benar-benar di hujani ujian harian. Beberapa siswa yang tak bisa mendapat nilai baik akan mendapatkan kelas tambahan, seperti biasanya siswa yang selalu masuk kelas tambahan adalah Shizuo dan beberapa siswa lainnya. Nilai yang di dapatkan tidak sesuai dengan standar nilai yang guru tentukan.

    Lain dengan Izaya yang tak ingin mendapatkan kelas tambahan, kelas tambahan yang artinya membuatnya semakin lama bertemu dengan Shizuo itu membuatnya sedikit terganggu. Karena itu ia tak boleh masuk kelas tambahan.
    Ia jadi menghindari remaja bermasalah itu sekarang, menghindari perasaan yang menggelitik dirinya sendiri. Ia berfikir ia akan melupakannya dengan mudah dan bermain dengan orang lain. Ia hanya perlu kembali pada dirinya yang dulu.

    Ia hanya perlu mengubah kebiasaannya menggoda siswa pemarah yang selalu mengejarnya itu. Paling mudah di goda dan memenuhi pikirannya setiap waktu.
    "Sial, ini sulit-" Izaya berjalan pelan menghabiskan dua harinya menghindari Shizuo benar-benar membuatnya tak nyaman. Kemanapun ia pergi, kemanapun ia melihat, bayangan lelaki itu tak ingin pergi dari pikirannya.
    .
    .
    .​

    "Ada apa denganmu? Kamu pucat banget?" beberapa siswa mengajaknya bicara Izaya yang nampak tenang dalam lamunannya. Ia hanya tersenyum dan bersikap seakan tak terjadi apapun dan menunjukan bahwa dirinya sedang baik-baik saja. Tidak mendapatkan kelas tambahan itu artinya di memiliki banyak waktu luang untuk bermain, bukan untuk belajar tapi untuk menikmati kegalauan hatinya yang masih melandanya hingga tiga hari setelahnya.
    Bahkan hingga minggu berikutnya, Izaya semakin takut datang ke sekolah. Ia semakin tak bisa bersikap di hadapan Shizuo yang membuangnya seperti itu. Rasa sakit yang muncul hanya karena sebuah permainan yang ia mulai.

    Sesekali, saat bertatap muka saja dengan cepat ia berlari atau memutar ke arah lain. Pada jam istirahat kelas hanya merasa dirinya mendapat lirik datar dari Shizuo sudah membuatnya merona.
    'Apakah aku begitu bodoh hingga membiarkan diriku terlihat setolol ini.'
    Ia masih berpura-pura bahagia dengan peran yang dimainkannya, begitu cantiknya seperti biasa. Tersenyum dan bicara dengan ramah, sesuatu yang bukan dirinya. Tak ada yang berubah sedikitpun dari sudut sisi tempat Shizuo memandangnya, sesuatu yang dekat namun terasa sangat jauh. Sesuatu yang telihat lebih indah karena tak bisa memiliknya.

    Tanpa sadar sudah berapa lama ia hanya memandang wajah itu tanpa bicara lagi padanya. Mungkin baru beberapa hari, tapi mengapa ini begitu menyiksa. Kenapa manusia menyadari kesalahan yang di buatnya?
    Lalu apa yang harus di lakukannya?
    .
    .
    .​

    "Aku ingin bertemu Shizu chan-, ah maksudku, aku...-" gumam tak jelas dari bibir yang masih bergetar memikirkan kata-kata aneh yang baru saja ia ucapkan ,tak terbuka pada perasaannya sendiri, yang hanya bisa ia mengerti sendiri dan ia masih mencoba mengelabui perasaan kecil itu. Ia berbicara dengan dirinya sendiri pelan sambil membenamkan wajahnya ke tas membiarkan teman sekelasnya pulang lebih awal, tidak ingin diusik, atau diganggu saat ini. Biasanya Shizuo akan segera meninggalkan kelas setiap jam pelajaran berakhir paling cepat, jadi ia tak perlu bertemu atau sekedar berpapasan. Izaya tak ingin keluar kelas, sebelum memastikan Shizuo sudah melintasi gerbang sekolah yang terlihat jelas dari posisi duduknya yang menghadap jendela.
    "Kenapa kau menghindariku? Izaya." suara seorang siswa dengan kemeja yang masih rapi berdiri tegap di pintu kelas yang sudah tak ada siapapun.
    Suara pada nada yang selalu sama, berat dan sedikit berserak begitu tenang. Izaya menoleh mencari arah suara yang ia pikir hanya bagian ilusinya.

    "He.....?"
    Ia sangat kaget, setelah hampir dua minggu tak bicara lagi sekiranya hari ini Shizuo akan mengganggunya seperti pertemuannya saat pertama kali.
    "Ke- Kenapa kau masih di sini? Seharusnya kau ada kelas tam-" Izaya sedikit canggung, dia tak bisa mengatakannya dengan cepat. Ia harus bersikap normal, menguatkan hatinya agar tak terlihat kikuk dan canggung.

    "Maksudmu, kau selalu melihatku dari arah sini saat aku pulang sekolahkan? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak-" Ucapan panjang dan cepatnya itu tiba-tiba terhenti, ia masih melipat tangan dan membawa tas sekolahnya pada bahu kanannya.

    "Minggirlah! Aku harus pergi!" Izaya tahu ia harus lari dari situasi yang membuatnya lemah seperti saat ini. Tak ada jawaban, dari pemuda dengan rambut terang itu. Shizuo memalangi pintu dengan kakinya agar tak ada yang bisa melewatinya.
    "Jadi kau tak tau hari ini semua siswa kelas tambahan ke kurangan guru?" Shizuo masih tak menatap pada Izaya yang berdiri ingin melewati pintu itu. Ia hanya berusaha tenang menyembunyikan debaran di dadanya yang sangat cepat saat ini.

    "Ku bilang, Minggir!" nada bicara Izaya meninggi bersama tanda ke unguan di dahinya seperti menahan marah dan kesalnya.
    "Jika tidak?" Shizuo kembali seperti biasanya, tapi biasanya Izaya yang selalu menanggu remaja pendiam yang selalu mengandalkan kekuatan itu. Izaya hanya menatap datar berusaha tetap tenang ia tak ingin terlihat lemah di depan Shizuo. Ia masih memaksakan dirinya, tetap berdiri walau terluka tipe keras kepala yang tak bisa jujur dengan dirinya sendiri.

    Ia mencoba melangkahi kaki jenjang Shizuo yang menghalanginya, saat satu kaki dan setengah badannya hampir melintasi pintu kelas itu dengan bersamaan Shizuo menaikan posisi pahanya sehingga memalangi Izaya yang tak lebih tinggi darinya saat itu.
    "Hiiiii?" sangat kaget dengan wajahnya yang bersemu menatap Shizuo yang sedang mengganggunya saat ini. Sial, dia kehabisan akal. Paha Shizuo tepat pada pangkal paha Izaya yang berniat melewati siswa dengan wajah mengejeknya saat ini.
    "Kau tidak dengar, kami kekurangan guru mengajar?" Shizuo bicara tepat di depan wajah Izaya yang masih merona di buatnya, manis. Izaya tak pernah secanggung ini di hadapan orang lain.

    "La- lalu?"
    "Aku ingin kau mengajariku kalau begitu! Hari ini! Di rumahku! Sekarang!" tegas, tak terbantah dan egois. Permintaan yang menyakitkan sekaligus sedikit membuat Izaya tersenyum karena bisa bicara lebih lama hanya berdua. Mungkin ini salah satu bagian dari hukuman atas sikap egoisnya yang tak bisa jujur pada dirinya, menyedihkan seperti ini.

    Terjebak lebih lama dengan orang yang pernah meninggalkanmu dalam cinta yang hanya kau nikmati sendiri.
    'Jahat.'
    .
    .
    .​

    Berdiri dengan pundak lesu dan wajah sedikit bingung, Izaya memeluk tasnya erat seperti sedikit takut masuk ke sebuah apartemen yang sering ia kunjungi sebelumnya. Sedikit nanar memandang gagang pintu yang tak berubah, aroma pengharum ruangan yang masih sama seperti sebelumnya. "aya! Izaya! Izaya! Hei-" suara Shizuo membuyarkan diamnya. Kelopakmata yang terasa sedikit berat untuk melihat banyak hal yang sebelumnya mereka lakukan di sini, setiap terpejam ingatan itu justru menguat dan semakin hebat membuat ia tak bisa menahan dirinya.

    'Tapi apa yang bisa ia lakukan di situasi ini?'


    "Ah-" Shizuo menarik nafas panjang, siswa di hadapannya tak bertindak seperti apa adanya dirinya.
    "Kau membuat situasi ini semakin sulit! Masuklah, ayo bicara di dalam." Shizuo menunggu Izaya yang masih berfikir untuk menghindari ini semua. Tak memberikan respon, tak bergeming dan merengkuh tasnya sendiri semakin erat menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia berubah pikiran. "Aku- Aku tidak bisa belajar dengan baik hari ini-" ia memutuskan menghindari ini, wajah bersemu antara malu dan merona kemerahan hingga pucuk telinganya terasa panas.

    "Ku bilang masuklah!" seruan Shizuo terdengar sedikit membentak seraya menoleh tak mendapati siapapun di belakangnya.
    Tiba-tiba Izaya sudah menghilang dari pandanganya, ia menjauhi pintu apartemen itu. Ia tak bisa menahan dirinya untuk lari dari situasi ini. Ia tak punya cukup keberanian memulai ini kembali, pada akhirnya ia berfikir ialah satu-satunya yang bodoh dan terluka seorang diri.
    Menuju anak tangga dengan langkah cepat, kakinya yang panjang membuatnya lebih cepat sampai. Nafasnya memburu, seperti lari dari sesuatu yang akan menghabisinya. Sama sekali bukan Izaya yang suka menerjang bahaya.

    "IZAYA!" dengan langkah super cepat derap kaki Shizuo yang terdengar membuat Izaya srmakin cepat. Tapi ia masih ingin mengatakan sesuatu pada orang itu, tapi juga ia tak mampu melakukannya, tapi ia tak bisa tenang jika seperti ini, tapi-
    "Apa yang?" Shizuo menangkap lengan Izaya yang memunggunginya. Tubuh yang sedikit bergetar, terlihat sedikit lembut dan lebih manis seperti ini.
    "Biarkan aku pergi." Izaya tak mampu melihat wajah orang yang berbicara dengannya itu. Ia sangat buruk dengan moody nya hari ini. Shizuo menarik kuat lengan itu membuatnya yang tak menjaga keseimbangan menjatuhkan tasnya dan tubuhnya tertarik lebih dekat dengannya.
    "Kau menangis? Apa yang terjadi?"
    Shizuo mengambil tas milik temannya itu. Ia menarik cepat bersembunyi dari ramai di luar, mendorong masuk siswa berambut hitam dengan wajah yang sedikit murung dengan air di pelupuk matanya yang menggenang.

    "Biarkan aku pergi, baka!" Izaya menarik tangannya. Sementara tangan kuat itu menggenggam erat kedua lengan kecil tepat di hadapannya.
    "Kalau begitu kita tak butuh belajar hari ini." Shizuo menariknya lebih dekat.
    "Katakan padaku?" tanyanya lagi.

    Pria berambut terang dengan wajah tegas yang mengintimidasi selalu seperti itu. Membuat siswa berkulit pucat di hadapannya berhenti berontak dan tak bisa melawan lagi.
    "Kau tidak bisa hidup dengan tenang tanpa diriku kan?" jemari jenjang itu menyentuh dagu dan bibir yang merambat menjamah telinga dan tengkuk Izaya yang sejak tadi sudah merona. Ia menutup pintu dengan kakinya, cepat dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.
    Kecuali bisikannya yang seakan membaca apa yang di pikirkan Izaya saat inu. "Menyukaiku? Berawal dari permainan dan kau ingin aku hanya menjadi milikmu kan?"
    "Katakan itu! Izaya!"
    Shizuo tak berhenti walau Izaya menggenggam lengan itu dengan tenang dan sedikit lelehan air mata yang membasahi wajahnya. Ia tak berbicara, bibirnya tertahan untuk mengatakan sesuatu.

    "Kau menyukaiku lebih dari apapun, karena itu kau muncul setiap hari. Ya kan? Izaya, katakan itu-"
    Tubuh dengan seragam sekolah itu mendorong dirinya agar melekat lebih dekat, penekanan dan pemaksaan yang menyebalkan. Ia bahkan bisa merasakan jantung yang berdebar cepat dari tubuh pria di hadapannya ini. Dia mulai menggoda dan menyebalkan dengan wajah serius bisa mengatakan hal semacam itu.

    "Sakit- kau menyakitiku." suara bergetar sama itu keluar dari Izaya. Ia tak bisa menatap lebih lama lagi, ia tak bisa menahan luapan di hatinya saat ini.
    "Kau kira? Kau satu-satunya yang bermain di sini? Dengar, bukan kau yang satu-satunya mencintai di sini. Bodoh!" bisikan Shizuo membuat Izaya terkesiap dengan cepat. Ia mencoba membaca ekspresi Shizuo yang bisa mengatakan hal itu dengan begitu tenang. Wajahnya sedikit bersemu merah muda. Ia meyakinkan bahwa ia sedang tak salah mengartikan apa yang di maksud pria yang menghadangnya dan tak memberikannya kesempatan melarikan diri.

    "Shizu Cha-"
    "Ah- bodoh, jangan berfikir aku bisa meninggalkanmu begitu saja." Shizuo semakin erat menggenggam lengan kecil itu. Erat, ia menegaskan kata-katanya ia membuang segala keraguan yang membuatnya terus bimbang.
    Mendekatkan dirinya mengecup bibir ranum mungil bergetar menahan kata-katanya.

    "Ta- tapi kau- kau bilang tidak ada ciuman lagi- kau bilang tidak-" suara begetar nada rendah dan serak tipis dengan linangan air yang membasahi wajahnya. Bibirnya semakin bergetar, ia mengatupkan bibirnya yang tak bisa melanjutkan kata-katanya menelannya untuj dirinya sendiri. Kenangannya beberapa minggu lalu kembali menyesakan hatinya.
    Izaya menundukan wajahnya, ia tak ingin terlihat payah dengan wajah manis yang sebenarnya sangat menarik untuk di goda. Sikapnya membuat pria yang mengekangnya kini lebih lembut dan melemahkan genggamannya.

    "Gomenasai-"
    Suara yang sangat lembut dan nada rendah dari tenggorokan Shizuo. Ia menarik wajah Izaya agar lebih dekat dengannya, memperhatikan wajah dengan pandang nanar dan alis yang sedih.
    "Maafkan aku sungguh-" ucapnya lagi mengecup lembut bibir tipis pucat Izaya yang tak memberi perlawanan sekarang.
    "Aku mengatakan hal buruk padamu-" sekali lagi ia mengecup bibir Izaya lebih lembut, hawa panas dan aroma nafas manis yang tak berubah sedikitpun sejak terakhir kali mereka bertemu.
    "Berapa kalipun-" Shizuo memegang pipi dengan lelehan airmata yang belum berhenti, ia menciuminya, pipi, dagu, hidung, kelopak mata. Kecupan yang lembut, hangat dan penuh perasaannya yang sebenarnya.
    "Aku akan terus melakukannya, hal yang membahagiakan ini. Maafkan aku." Shizuo menghentikan air yang mengalir dari manik hitam jernih itu dengan jemarinya yang jenjang dan sedikit kasar. Ia menggenggam telapak tangan Izaya dengan hati-hati, sementara pria itu tak bergeming menerima perlakuan lembut yang tak ia bayangkan sebelumnya. Bagaimana sosok urakan yang selalu membuat masalah bersikap sangat lembut dan manis seperti ini padanya. Bahkan setelah sekian lama, ia tak tahu sisi Shizuo yang sehangat ini.

    "Aku menyukaimu- jadi aku tidak akan bisa melepaskanmu lagi. Maaf-" Sambil menggenggam erat tangannya, meletakan dahinya pada pundak Izaya dengan wajah sedikit puas telah mengatakan itu dengan baik dan sejujur-jujur dirinya.
    "Baka-" Izaya membalas genggaman tangan kuat itu, ia menarik dagu Shizuo dengan hati-hati dan mengecup bibirnya. Kini Izaya membalik keadaan membuat Shizuo terduduk di lantai kayu yang tak jauh dari rak sepatu.

    "A- Akulah, yang pertama menyukaimu- Baka Shizu-" Izaya memeluk dan meletakan wajahnya tepat di antara leher dan pundak Shizuo dengan lembut. Ia mengecup dan menghisap lembut bagian yang selalu di serangnya setiap mereka bercinta. Meninggalkan bekas merah kecil dan manis, kali ini Izaya melakukannya dengan sedikit malu dan wajah yang masih merona sejak awal.
    "Jangan berfikir hanya kau yang jatuh cinta di sini." tangan itu membelai rambut hitam halus remaja yang duduk menghadapnya dengan tangan sedikit bergetar.
    "Kalau begitu, keluarlah denganku. Kali ini aku tidak ingin bermain-main." ucapan Shizuo membuat Izaya semakin tak percaya, mengernyitkan dahi dengan wajah murung dan berusaha mencerna kata-kata itu agar ia tak salah mengartikan.

    "Jika kau setuju, aku akan menciummu setiap hari, berapa kalipun yang kau mau aku akan melakukannya."
    Shizuo benar-benar menghabisinya dengan sangat lembut, melumpuhkannya. Benar-benar mematikan seorang dirinya yang bisa menghindari setiap masalah.
    Ia tak bisa mengatakan apapun, ia hanya menjatuhkan Shizuo ke lantai dan mengecupnya di bibir. Mengecupnya lagi, dan sekali lagi ia tak bisa mengentikan rasa candu ini. Ia tak ingin melepaskan tubuh yang selalu menganggu malam dan tidurnya. Ia seperti ingin memastikan bahwa yang sedang terjadi ini bukanlah halusinasi karena frustasinya.
    Apakah mencintai benar-benar bisa membuat orang segila ini?


    "Jadi? Jawabanmu?" bisik lembut Shizuo menghentikan Izaya yang duduk di pangkuannya dengan sangat manis.


    "Bawa aku ke kamarmu, sekarang-" jawabnya cepat menghirup aroma dari kerah kemeja Shizuo.
    .
    .
    .​



    "Ahh... Jadi kau juga sudah menunggu semua ini Shizu chan- ?" Izaya bergelayut manja di tengkuk yang sedikit basah karena keringatnya. Kelopak mata dengan hiasan lentik bulu matanya sangat menggairahkan.
    "Aku jadi benci kamarku sendiri-" tiba-tiba Shizuo mengentikan jamahan lembut jemarinya pada tubuh pucat Izaya yang sudah menanggalkan seluruh pakaiannya. Lekuk halus yang terlihat manis itu menggoda manja di bawahnya. "Kenapa?" Izaya membalas tatapan sendu yang menatapnya sejak tadi. Izaya melepaskan ikat pinggang dari celana seragam sekolah Shizuo dengan hati-hati. Ia masih memfokuskan dirinya pada pertanyaannya.

    "Kamarku- penuh dengan aroma dirimu. Itu bisa membuatku gila."
    Dengan wajah sedikit memerah dan mata terpejam ia berusaha mengatakannya dengan baik. Ia tak ingin terlihat gugup, justru Izaya yang semakin bersemu mendapatkan kata-kata seperti itu darinya.
    "Hah? Benarkah? Lalu bagaimana sekarang? Aku yang asli ada di hadapanmu-" Izaya yang merasa sedang di goda meremas sedikit keras bagian ereksi di antara kedua kaki Shizuo yang terus menyentuhnya sejak tadi tanpa henti. Shizuo hanya sedikit meringis kaget dengan perbuatan Izaya.
    "Sial! Aku tak bisa pelan-pelan melakukan 'ini' sekarang Izaya!"

    "Hiiii-" Tiba-tiba mengantamkan dahinya pada dahi Izaya cukup keras membuat kepalanya terjatuh ke bantal. Shizuo menghentikan gerakan tangan Izaya, menarik kedua tangannya ke atas dan mengikatnya erat dengan dasi sekolahnya yang tergeletak tepat di sampingnya.
    "Hei- hei- hei- apa-apaan ini lepaskan aku, Baka!" Izaya menggeliat dengan wajah malu nya. Shizuo hanya tersenyum, ia membuka lebar-lebar kedua kaki jenjang putih yang tersaji di depannya.
    "Lihatlah, kau sudah sangat basah-" Shizuo mengecup pucuk merah muda di dada pucat halus Izaya yang lebih kecil berbaring di bawahnya. Satu tangannya menahan tangan Izaya yang terikat ke atas dan tangan lainnya melumasi persiapan pada percintaan mereka sore ini. Izaya tak lagi melawan, tubuhnya sesekali bergetar menahan aliran geli yang berdesir dalam dirinya.

    "Shizu- Shizu- aku akan-.." ucapnya terputus, ia tak bisa menahannya.
    "Keluar? Aku hanya memainkan putingmu dan kau akan keluar? Kau sangat mesum-" Shizu menertawainya sedikit dengan wajah sedikit kesenangan berhasil menggoda Izaya lebih dari sebelumnya.

    "Ahh .. Ahnn cepat masukan itu!" Izaya membuat kepala Shizuo masuk pada kedua lengannya yang terikat di pergelangan tangannya.
    "Well.. Baiklah Tuan penggoda-"
    Sekali lesakan ia memasukan seluruh hasratnya melalui bagian intim Izaya yang melengkungan tubuhnya ke atas menerima hujaman tersebut.

    "Ahhnngg- Shizu chan.." Desahnya sedikit merinding pada lengan-lengan yang terlihat jelas di samping wajah Shizuo yang berusaha melepaskan kedua tangan Izaya.
    "Hei- jangan seketat itu! Sial,-". Sedikit berusaha menahan perihnya Shizuo memejamkan mata menahan jepit kuat yang meremas bantang kemaluannya dengan erat.
    "Ahnngg ahh- Shizu-"

    "Lebarkan kakimu sedikit lagi-" sedikit kasar ia menarik kaki Izaya lebih tinggi hingga menyentuh siku tangannya. Ini membuatnya lebih leluasa mencapai bagian paling dalam. Menariknya dan melesakannya lebih dalam lagi. Nafasnya tak beraturan dengan pejaman mata yang berusa mati-matian menahan ejakulasinya agar tak keluar dengan cepat.
    "Di dalam, milikmu! Sangat besar- Shizu.. Hmmnnn.."

    "Heeee? Kau sangat menikmati ini ya? Dasar mesum!" Shizuo mempercepat pegerakannya, tubuhnya yang terus bergerak membuat Izaya sedikit sulit mengimbangi gerakannya yang mulai berantakan.
    Keringat yang menetes dan suara samar erangan dari kamar yang bersatu dengan aroma nafas dua orang yang menyatu. Decit kaki ranjang yang sesekali terdengar lebih kencang, menatap satu sama lain.
    Apakah perasaan ini benar-benar nyata? Atau ini hanya mimpi yang terus di mimpikan walau sedang terjaga dari malam-malam panjang yang kesepian.
    .
    .
    .
    .
    .
    .​

    "Shizu Chan, sudah cukup-" Izaya menggeliat mulai menghindari candu yang menguasainya, jam menunjukan pukul tengah malam saat Shizuo belum puas dengan malam ini.
    "Hah? Apakah kau sudah lelah?" Shizuo bersiap membentangkan kedua kaki Izaya lebih lebar lagi. Bekas ikatan di pergelangannya yang memerahpun sudah mulai menghilang.

    "Ughh- perutku di penuhi sperma mu bodoh!" Izaya nampak benar-benar kelelahan, staminanya menurun. Ia bahkan belum mengabari penghuni rumah bahwa ia bermalam di rumah Shizuo malam ini. Apartemen Shizuo yang selalu sepi karena ia tinggal seorang diri.
    "Ah, baiklah-baiklah. Aku tidak ingin kau pingsan. Bersihkan dirimu, kau butuh makan malam."
    Shizuo bangkit dan terduduk sedikit mendekati pinggir bed berukuran Queen itu. Ia mengenakan kemejanya dan memegang kepalanya, mereka belum berhenti sejak sore tadi.
    Spray yang mulai kotor itu harus segera di cucinya. Izaya dengan perlahan menarik ujung jemari Shizuo yang memunggunginya. "Kenapa?" Shizuo mendekati wajah yang nampak lelah dengan sedikit bingung dengan apa yang harus di katakannya.

    "Apakah kau akan meninggalkanku? lagi? Apakah ini yang terakhir-" Ia ingin memastikan, bahwa ini tidak akan sama dengan pertemuan mereka terakhir kali. Sebuah kecupan di bibir bawahnya membuat Izaya berhenti bertanya, ia sedikit khawatir dan bimbang dengan dirinya sendiri.
    "Ini, justru baru di mulai. Aku tidak akan bermain-main lagi denganmu."
    Tak bisa berkata-kata, suara yang selalu membuat hatinya bergetar. Perasaan hangat yang selalu membuat perasaan nyaman dalam dirinya.

    Menghabiskan malam menjelang hari kasih sayang, hari yang tak pernah ia percayai. Sesuatu tentang yang selalu orang-orang katakan. Tentang cinta dan perasaan-perasaan yang menyelimuti dan membingungkan menjebak setiap orang.
    Cinta sejati yang seperti hantu, ya kau tau setiap orang membicarakannya tapi siapa yang pernah melihatnya?
    Jika mengharapkan cerita cinta sejati yang murni akan berakhir dengan indah itu adalah kesalahan, karena cinta sejati tidak akan pernah berakhir bisa jatuh di mana saja, bisa jatuh pada siapa saja itulah yang membuat setiap orang mengatakan cinta itu buta.
    .
    .
    .​

    BRAK!!

    Suara kursi sekolah menghantam pagar terdengar cukup keras, masa SMA selalu di penuhi kejuta-kejutan tak terduga. Seorang siswa berhasil menghindarinya, berlari lincah meninggalkan pria berwajah merah padam yang mengejarnya. "Izaya!" teriaknya kesal masih terus mengejar siswa berambut hitam pendek dengan mantel hitamnya.

    "Hooo itu membahayakan sekali Shizu Chan!" desisnya sambil sumringah berhasil mengerjai pria berambut terang dengan wajah kesal di belakangnya.
    Sesuatu yang berubah dan telah kembali. Atau justru sesuatu berubah karena baru mereka sadari.
    Kehidupan akan terus berlanjut, sebuah permainan nyata yang tak bisa putar ulang kembali. Bermain dengan perasaan yang di sebut cinta itu membahayakan jika kau benar-benar jatuh di dalamnya. Menertawakan cinta dan cinta akan membuatmu menangis.
    Hari yang terus berlalu di Ikebukuro, terlihat berubah tapi sepenuhnya berubah. Selalu ada hal-hal baru yang harus di pelajari dalam permainan terbaik bernama kehidupan ini.

    Jeng-Jeng~
    Zen San baru update lagi maaf atas kelamaan updatenya :)


    untuk lebih banyak FF lagi temui aku di FFN
    atau di Wattpad
    justfujoshi.wordpress.com :peace:
     
  2. Kyubey

    Kyubey Well-Known Member Uploader

    Messages:
    143
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    16
    Gils:
    50.05€
    Points:
    0 (0 Banked)
    Oh my God.
    Ini dua couple yang saling kejar-kejaran dengan kedok benci :3
     
  3. kuma_idzni

    kuma_idzni Well-Known Member

    Messages:
    321
    Likes Received:
    2
    Trophy Points:
    18
    Gils:
    93.28€
    Points:
    0 (0 Banked)
    wahahahaha izaya bisa juga galau :v

    ikebukuro jadi kayak apa kalo couple ini beneran~

    tp smut lemon dapettt asem gmn gtu XD
     
  4. donutskuma

    donutskuma Well-Known Member

    Messages:
    284
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    16
    Gils:
    57.66€
    Points:
    10 (0 Banked)
    AAAA.... JENJEN!!!! KAMOH BIKIN SHIZAYA DAN AKOH TIDAK MENGETAHUINYA SELAMA INI...????!!! DAN SEMUUTTT???!!!! SEBAGAI SHIZAYA SHIPPER AKOH... AKOH...

    puja kerang ajaib~

    //maaf caps, jangan kick saya dari forum admin-san...maaf beribu maaf//
     
  5. Zen San

    Zen San Well-Known Member

    Messages:
    308
    Likes Received:
    1
    Trophy Points:
    18
    Gils:
    195.15€
    Points:
    31 (0 Banked)
    Iya iyaa amakanya aku suka mereka u,U padahal mereka cinta cuman tsun-tsun gitu si shizuo kadang

    Added in 2 minutes :

    Ehehhe maaf ya aku mesyuum ka wkwkwk
    Bukannya ikebukuro bakal nyaman dengan ketua geng kayak shizuo yang punya istri informan manja ngeselin tapi menggoda kayak Izaya (?) mihihihi

    Added in 2 minutes 41 seconds:

    Ahhh aku juga banget sama mereka >//////< sosweet bloon gimana gitu padahal saling cinta

    Ugh >//////< gak nahan sama Shizaya <3
    Yang semut semut lemonan kan enak makanya bikinnya ampe kaki kesemutan gak bisa berenti sbnrnya ff udh lama cuman baru share ehehehe ~
    Hidup SHIZAYA !!!!
     

Share This Page